18 Jun 2010

Yara


Matahari seperti enggan memperlihatkan senyumnya sedari pagi. Yara masih terdiam di sudut kamarnya. Ingin keluar...kemana saja..dan menemukan sebuah tempat yang sekiranya mampu untuk memuntahkan segala kebingungannya.


20 menit berlalu, Yara masih berdiri mematung dan membuang pandangannya keluar jendela. Melihat lamat-lamat warna langit. Berharap cuaca mulai berpihak kepadanya. Dalam hati ia membathin, apa yang harus aku lakukan? berdiam diri di rumah dan membiarkan sepi ini membrangus bathin ku?

Andai ia bisa menghubungi Lana, mengajaknya meluangkan waktu untuk mendengarkan apa yang sedang berkecamuk dalam dirinya. Bersenda gurau dan melayani segala celoteh Lana yang lucu. Agar ia bisa sedikit saja melupakan persoalan ini.

Tapi kemudian Yara mengurungkan niatnya, untuk saat ini tidak satupun teman dekatnya yang ia yakini bisa diajak bertukar pikiran. Sekalipun Lana.

Tiba-tiba yara bergerak dari jendela kamarnya. Menyambar buku dan ipod lalu mempercepat langkahnya untuk keluar dari rumah. Kali ini tidak jauh, hanya menyusuri taman yang terletak di sekitaran komplek rumahnya. Berharap dengan berjalan santai dan duduk-duduk di taman bisa memberi sedikit rasa relax untuk pikirannya.

Buku itu masih digenggamnya erat sambil terus berjalan pelan menyusuri komplek perumahannya. Alunan lagu Pure Saturday pathetic waltz mengalun pelan dari ipodnya.

Kini ia sudah berdiri di taman, melihat ke sekeliling, sunyi dan sepi.
Jam dipergelangan tangannya menunjukan jam-jam dimana setiap orang sedang beraktifitas di kantor, atau tidur siang. Yara duduk dan kembali membuka lembaran buku yang sudah ia batasi dengan pembatas buku lucu pemberian dari Adri.

****

Ternyata tidak juga bisa mengalihkan pikirannya. Mata itu tidak membaca, pikiran itu tidak tertumpah ke dalam buku yang di pegangnya

Sesaat mata itu terpejam. Terbayang wajah Adri dengan senyuman lesung pipitnya. Yara yakin tidak ada yang salah dengan Adri dan hubungan mereka. Tapi apa yang ditinggalkan Dito beberapa hari lalu pada sebuah messengernya cukup membuat dirinya termangu. Mereka memang tidak pernah selesai, hanya saja berpindah pada cerita lain. Dan saat ini cerita yang Yara miliki cukup menarik dan bisa membuat pipinya merah semerah bunga mawar ketika membayangkan wajah Adri dan cerita-cerita mereka berdua.

Dito

Apa yang tersisa hari ini hanya kenangan. Sesuatu yang sulit di hilangkan sekalipun ingin mengubur atau menutupnya rapat-rapat. Yara masih sering memikirkannya, terkadang ketika memikirkannya Yara suka tersenyum dan di iringi helaan nafas yang panjang.

Bolehkah Yara memulai kembali apa yang sudah menjadi kenangan dengan Dito? Yara tahu perasaanya tidak pernah menjadi abu, dia hanya memilih untuk menyimpannya rapat-rapat. Dan memulainya dengan perasaan lain.

Jika saja apa yang Dito tinggalkan dalam messengernya
tidak diabaikan. Mungkin saat ini Ia bisa memulai kembali cerita yang dulu pernah ditinggalkannya begitu saja.

Kembali berada dalam plot yang
sama dan mungkin dengan rasa yang sama pula. Beraroma manis lembut, seperti Chiffon cake yang sering ia buat.

Suara petir menggelegar dan membuyarkan lamunannya. Langit seketika memuntahkan hujan. Yara tergerak untuk berlari tapi sesaat kemudian dia berhenti dan menengadahkan wajahnya, memandang langit lalu membiarkan bulir-bulir air hujan membasahi wajah dan sekujur tubuhnya. Ia memejamkan mata, membuka tangannya dan berputar-putar seperti anak kecil yang riang ketika bermain dengan hujan. Bantulah aku untuk meluruhkan perasaan ini, bantulah aku lirihnya

****

Yara ingin bisa meraba hatinya dan mengikuti apa yang di inginkannya. Tapi untuk kali ini ada orang lain yang tidak bisa ia abaikan perasaannya. Apa yang ada dalam diri Adri sudah lebih dari cukup. Dan saat ini memilih untuk tetap berada dalam plot cerita yang berbeda adalah terbaik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar