18 Jun 2010

Lana Part I


Bola mata ini terus memperhatikan gerakan mulutnya, arah tangan yang terus bergerak kesana kemari, dan raut wajahnya yang menyiratkan rasa senang luar biasa.
Ya, kadang seseorang butuh menceritakan hal yang sama secara berulang kali untuk memastikan tidak ada yang terlewat sedikitpun. Dan sudah kesekian kalinya Jusuf menceritakan sosok perempuan yang belakangan mendominasi dirinya, sukses membuat jarak dirinya dengan Lana.


Ternyata intuisi itu benar, bisikan lembut di balik telinga itu nyata adanya. Jusuf menghilang karena orang lain, bukan semata-mata untuk memikirkan apa yang pernah terjadi di antara mereka.

Apa yang Lana dan Jusuf miliki saat ini adalah hubungan absurd yang pernah Lana jalani dengan seorang laki-laki. Mengklaim sebagai teman tapi terkadang hubungan mereka seperti sepasang merpati yang enggan beranjak dari peraduannya. Ya, Lana dan Jusuf pernah berada dalam satu cerita dengan peran Lana sebagai putri cantik rupawan dan Jusuf adalah seorang pangeran berkuda dari negeri antah berantah. Mereka menjalani dan menikmati perannya masing-masing.

Tapi kini Lana menyadari bahwa bukan lagi dirinya yang memenuhi hari-hari yang Jusuf lalui. Perempuan itu, sosok yang Lana sendiri tidak tahu siapakah dia dan seperti apa rupanya yang sudah membiarkan Jusuf tenggelam dalam dunia warna warninya sendiri.

Kadang Lana ingin membiarkan Jusuf meracau sendiri dalam kubikelnya, tapi dorongan untuk mendengarkan dan menginginkan sosok dirinya tetap menyenangkan di mata Jusuf lebih ingin di lakukannya.

Sampai pada suatu ketika secara tidak sengaja Lana melihat apa yang tidak ingin di lihatnya. Sosok perempuan yang ia biarkan tetap menjadi abu-abu dan hanya menjadi imajinasi dalam pikirannya. Kini telah merupa, mewujud menjadi sosok perempuan yang sanggup menyedot semua rasa cemburunya. Dan seperti perempuan pada umumnya, Lana mencoba membandingkan dirinya dengan perempuan itu. Tapi kemudian Lana tersadar, fisik tak lagi penting ketika wajah merona Jusuf tidak lagi tertuju untuk dirinya.

Lana tidak beringsut dari duduknya. Matanya tetap menelanjangi pasangan itu dari kejauhan. Mereka tampak mesra, tidak ada jarak, bahkan untuk orang ketiga seperti Lana. Senyuman itu, sorot mata indah itu, yang dulu hanya di berikan untuknya kini sudah tergantikan dengan sosok lain.


Lana memalingkan wajahnya sebentar, membiarkan dirinya keluar dari dunia yang saat ini ia yakini tidak ingin lagi dipijaknya. Membiarkan perasaan dengan logika berteman baik, biarpun apa yang pernah Andrea ucapkan bahwa logika dan perasaan tidak bisa di satukan, Lana tetap membiarkan dirinya meraba-raba pikiran yang hampir meledak dari kepalanya.

Salahkah Lana bila ia pergi tanpa meninggalkan pesan untuk Jusuf? dan sadarkah Jusuf telah membuat hatinya tercabik-cabik menjadi potongan-potongan kecil?

Lana beranjak dari duduknya, perlahan ia berjalan keluar sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Meninggalkan Jusuf dan bayangan dirinya dalam sebuah frame yang ia beri judul kenangan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar