14 Feb 2010

Ibu

Saya dan ibu memang tidak terlalu dekat. Kami jarang bertegur sapa dan berinteraksi. Serumah tapi seperti tidak serumah, gambaran yang pas untuk hubungan kami. Entah ini di mulai dari kapan. Ketika saya menyadarinya, jarak semakin melebar dan entah kenapa (lagi) saya enggan untuk menghapusnya.
Saya semakin asik dengan dunia saya sendiri.
Itu dulu sekali, sekarang semua sudah berubah. Persepsi buruk yang saya miliki terhadap ibu meluruh bersamaan dengan beberapa peristiwa yang saya alami dalam hidup.

Entah berapa kali selalu di hadapkan dalam situasi dimana saya harus membuka mata saya dan menyadari bahwa ibu adalah segalanya. Ketika mengalami pasang surut dalam hubungan dan krisis jati diri, ibu adalah sosok pertama yang membuka tangannya untuk saya berkeluh kesah. Menyadar kan saya bahwa selama ini sudah menomor sekian kan ibu dalam urutan prioritas. Saya menyesali semua itu.
Tanpa diminta, dia rela menunggu saya dalam tidur ketika lelah menangis semalam suntuk dan meracau bersamanya.
Tanpa diminta, dia membiarkan saya bertindak sesuka hati dan membuatnya terluka.
Dan tanpa diminta pula, ketika saya dalam masa krisis keuangan dia memberi materi dan dorongan materil yang tidak sedikit.
Saya sakit, dia pun ikut sakit.
Ada kah saya melakukan hal serupa? jawabannya adalah tidak.

Saya malu.

Belum lama ini Beliau mengajak saya untuk keluar. Sekedar berjalan-jalan melepas penat katanya. Sesuatu yang jarang terjadi memang, anggukan antusiatik saya tunjukan kepadanya. Sepanjang perjalanan menuju pusat perbelanjaan, banyak yang diutarakan soal keinginannya hari itu. Ingin potong rambut, membeli beberapa baju untuk menghadiri acara rutin bersama ibu-ibu disekitar rumah, dan tentu saja bela dan beli ini itu. Seulas senyuman pun saya berikan, saya senang bisa menemani ibu. Sungguh n_n.
Sebelum memulai untuk merealisasikan keinginannya satu persatu, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu.
Percakapan selama hampir 45 menit tidak terdengar kosong dan bolong. Dan baru kali ini saya bisa memperhatikan detail wajah ibu dari dekat. Tidak heran saya mempunyai hidung yang cukup mancung, karena dari sosok di depan mata inilah saya mendapatkannya. Dan kerut-kerut yang sudah banyak menghiasi wajahnya jelas menggambarkan bahwa Beliau sudah renta dimakan usia.
Sedih, mengingat di umurnya yang sudah senja, ibu masih saja harus bergelut dengan pekerjaan. Aah saya betul-betul berdoa dan berusaha semoga kelak saya mendapatkan pekerjaan, amin.

Masih di restoran siap saji. Dan masih mendengarkan Ibu bercerita.
Sambil mendengarkan, pikiran melayang.Terbagi menjadi beberapa bagian.
Pertanyaan demi pertanyaan mulai menggelayuti bathin saya.
Kenapa baru sekarang saya dan ibu bisa menjalin hubungan layaknya ibu dan anak?
Kenapa baru sekarang saya mengenal sosok ibu setelah puluhan tahun bernafas dan sadar?
Kenapa saya tidak bisa menjadikan ibu sebagai sosok teman yang bisa dijadikan tempat berkeluh kesah di setiap saya membutuhkan nya?
Kenapa saya harus memusingkan bahwa ibu adalah ibu, sosok orang tua yang old dan kolot?
Dan kenapa selama ini saya tidak memposisikan diri saya sebagai ibu?
Menghadapi segala macam kesulitan seorang diri. Lalu mendapati diri tidak mempunyai teman untuk berbagi. Diam-diam saya menekan-nekan dada ini, perih rasanya memikirkan hal itu.

Ibu, saya mau memulai apa yang tidak pernah kita mulai. Dan saya mau menjadi bagian dari apa yang ibu butuhkan. Ini memang sudah masuk bulan Februari, tapi entah kenapa saya ingin sekali mengucapkan selamat hari ibu. Semoga di usia senja mu , saya bisa menjadi yang terbaik. Saya sayang ibu.

Get well soon mah. I do love you ^^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar