17 Nov 2010

Tik..tok..tik..tok..


Tik..tok..tik..tok..

Tubuh mungil itu tetap tidak beranjak kemana-mana, hanya sesekali membetulkan posisi duduknya diatas kursi panjang kayu yang sepertinya sebentar lagi akan lapuk termakan usia.
Tangan kecilnya masih sibuk membolak-balik lembaran demi lembaran buku yang dipegangnya. Gambar ilustrasi ini sudah tidak terlihat menarik lagi untuknya, ia sengaja membawanya hanya untuk objek pengalihan semata dari segala kecemasan yang mulai menggerayangi pikirannya.

Tik..tok..tik..tok..tik..

Ia tahu persis malam itu terasa sangat sepi. Hanya angin dan suara gesekan daun-daun yang seolah-olah membisikinya dengan sendu. Ibu pernah bilang, dimusim penghujan seperti ini siapa saja enggan beranjak dari peraduan demi berkumpul dengan keluarga.

Tik..tok..tik..tok..tik..tok..

Andai saja ibu masih ada, mungkin saat ini aku sedang merebahkan kepalaku dipangkuannya dan mulai bercerita tentang kekaguman ku dengan Senja. Dan kini sudah terhitung
hampir 7 tahun Ibu meninggalkanku, menyusul ayah ditempat paling spesial yang sudah Tuhan siapkan untuk mereka.

Tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..

Lembayung mendongakkan kepalanya keatas dan menengadahkan tangan mungilnya untuk memastikan rintik-rintik hujan yang sudah sedari pagi mengguyur tanah yang dipijaknya. "Oh..sudah berhenti rupanya" dalam hati. Lalu Ia kembali merapatkan Jaketnya sambil berdesis kedinginan..ssshhhh..

Tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..

Kakinya masih tidak berhenti bergoyang, di ikuti dengan senandung kecil yang ia dendangkan dari mulutnya. Lucu memang, diusia yang tidak lagi remaja, sikap dan tutur kata Lembayung terkadang masih terlihat seperti gadis belia. Tidak heran banyak yang menaruh hati padanya. Termasuk Langit, salah satu teman kantornya yang tidak pernah berhenti usaha untuk bisa mengajaknya keluar.

Tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..

Tapi entah kenapa hatinya sudah tertambat dengan Senja. Melihat sosoknya kali pertama disudut kantin kantor, membuat Lembayung tidak mampu lagi berkata-kata. Rambut ikal dan kulit putih dengan wajah ras Kaukasoid, membuat Senja terlihat sempurna dimata Lembayung. lalu pena itu..dan buku sketsa...aah Lembayung teringat sosok ayahnya yang juga seorang pelukis asal Bali. Dan kini dilihatnya kembali sosok itu dalam diri Senja.

Tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..


Jam ditangannya sudah menunjukan jam 7 malam, perempatan yang biasa dilalui sepeda motor Jupiter berplat B 6214 ef masih lenggang. Hanya sesekali terlihat angkutan umum berhenti untuk menurunkan penumpang.

Tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..

Lembayung sadar mencintai seseorang dari kejauhan seperti berteman baik dengan rasa sakit dan sesak. Keberadaan yang tidak pernah disadari Senja sering membuatnya berkali-kali menyimpan tangis karena rasa yang tertahan. Ulang tahun yang tak pernah bisa terucapkan secara lisan pun selalu ia rayakan sendiri ditempatnya. Sambil tersenyum sendu Lembayung mengucapkan selamat ulang tahun untuk kue dihadapannya yang bertuliskan "Panjang umur, Senja merah"

Tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..

Pernah terbersit keinginan untuk bertegur sapa dengannya, ketika teman-teman perempuannya mengolok-olok dirinya pengecut & kampungan. Di era modern seperti sekarang ini, perempuan menyatakan terlebih dahulu bukan lagi sesuatu yang tabu ujar Cecil salah satu teman kantornya. Tapi itu semua seperti tidak akan pernah terjadi ketika sekali waktu Lembayung berpapasan dengan Senja, lidah mendadak kelu dan seluruh anggota badan menjadi kaku.Dan kesempatan demi kesempatan berlalu begitu saja.

Tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..

"Tidak semua orang bisa bersikap normal dihadapan orang yang dicintainya sepenuh hati, dan aku memilih untuk tetap seperti ini..menyimpan dan menikmati dalam diam" ia selalu membela diri dengan mengucap kalimat ini hingga berkali-kali pada siapapun yang menyuruhnya untuk berbuat lebih jauh untuk Senja.

Tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..

Sadar akan cahaya terang yang seketika menyorot wajahnya. Lembayung spontan menutupi wajahnya dengan buku yang dipegangnya. Lalu pelan-pelan ia turunkan dan mulai melihat siapa yang baru saja lewat. Senja... sesaat dadanya berdegup kencang.

Tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..

Ia tahu apa yang dilakukannya terlihat aneh, menguntit dan menjadi seorang pengamat sejati tanpa melakukan tindakan apapun. Dan ia pun sadar lambat laun Senja akan menyadari dan mungkin saja bereaksi ketakutan karena menganggap dirinya sebagai perempuan yang bermasalah dengan kejiwaan. Ia Tidak gila, hanya saja ketakutan ini membelenggunya.

Tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..

Senja memarkirkan motornya, lalu sosok perempuan yang baru dilihatnya ikut turun dari motor dan berdiri menunggu. Sesaat Lembayung membuang pandangannya, ia tahu resiko yang dipilihnya saat ini hanya menjadikannya sebagai bayangan semu. Tidak lama perempuan itu mengamit lengan Senja dan mengikutinya masuk kedalam rumah.

Tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..

Lembayung membalikan badan dan terdiam sejenak. Ia mulai merasakan wajahnya yang sudah merah padam. Air mata sudah mengembang disudut matanya yang sipit, lalu perlahan menetes ke pipi. "Aaahh kenapa aku harus menangis dan kenapa air mata ini tidak mau berhenti mengalir, hei..aku tidak sedih!! ucapnya setengah teriak. Dihapusnya lagi dan lagi air mata itu dengan sapu tangan. Dihembuskannya nafas itu kuat-kuat sambil terus berjalan menyusuri arah pulang.

Tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tok..

"Tuhan masih menyuruh ku untuk bersabar, karena kelak kebahagiaan akan menghampiriku..entah dengan cara seperti apa" ujarnya pelan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar