8 Okt 2010

Angan-angan

Beberapa hari yang lalu saya pulang bareng teman baru di kantor dan terlibat obrolan singkat yang cukup seru mengenai beberapa hal. Termasuk pekerjaan. Yang saya inget pada saat itu semua terasa seperti obrolan ringan antara 2 orang yang baru saling kenal lalu bertemu dalam satu kesempatan. Seperti dimana saya tinggal, kantor sebelumnya, hobi dan beberapa hal lainnya.

Tapi ketika harus pisah disebuah shelter bus karena arah pulang yang berbeda, keadaan
tiba-tiba berubah. Saya ngerasa ada sesuatu yang bikin situasinya jadi sedih sendiri. Potongan-potongan memori seperti kembali menguar dalam ingatan. Keinginan-keinginan, debat panjang sama mamah dan bapa, seperti menjadi tamparan yang cukup keras buat saya.

Teringat dengan pekerjaan yang sedang saya geluti saat ini. Dan kembali pada situasi dimana saya sedang bekerja dibalik meja dengan tumpukan deadline didepan mata. Lalu pertanyaan mulai keluar satu-persatu. Betul ga sih saya pengen kerja disini? betul ga sih tempat ini menjadi titik terakhir untuk saya?

Sepertinya bukan, bukan sebagai pekerja kantoran dengan deadline yang selalu saling mengejar dan tekanan-tekanan dari berbagai pihak.

Saya tetep pengen buka sebuah kedai kopi sekaligus perpustakaan dari berbagai macam jenis buku dari berbagai pelosok Indonesia atau negara manapun. Segala aktifitas seru lainnya yang selalu saya lakukan di sore hari dengan komunitas yang saya bangun dari nol. Atau menjadi bagian dari sebuah LSM, gabung dengan WWF/organisasi sejenis lainnya dan melakukan sebuah perjalanan untuk sebuah misi kemanusiaan. Saya masih pengen itu semua.

Tapi sepertinya ga sekarang, ga saat ini. Mental saya belum terlalu cukup ketika berpapasan dengan realita. Bukan hanya persoalan "money oriented" yang selalu menjadi wacana kedua orang tua saya, tapi juga kesempatan yang belum mau say hello sama saya.

Bukan, saya ngomong seperti ini bukan karena ga bersyukur dengan apa yang sudah saya punya sekarang ini, tapi salah ga sih ketika hati kecil masih menginginkan sebuah keinginan yang betul-betul ingin saya wujudkan? ini ko jadi banyak kata inginnya sih ;P.

Dan sepertinya harus sabar sesabar-sabarnya..

Karena terkadang ga semua hal yang kita pengenin bisa langsung di aplikasikan kedalam hidup nyata. Keinginan lingkungan yang kadang justru lebih kuat, akhirnya cuma mampu ngejadiin itu semua angan-angan yang akhirnya hanya mengendap begitu aja dalam pikiran.

Atau mungkin Tuhan lagi buat rencana yang maha dahsyat untuk saya. Sebelum menapaki jalan untuk sampai ketempat tujuan, saya dikasih alternative jalan setapak lainnya yang mungkin aja ada pelajaran yang bisa saya ambil untuk jadi bekal hidup di kemudian hari. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar