11 Apr 2010

R.I.P

Dikejutkan dengan berita duka cita melalui ponsel dari seorang teman dekat. Bianca, istri dari teman saya Daniel menghembuskan nafas terakhirnya pagi tadi. Operasi pencangkokan tulang belakang yang sudah dia jalani di salah satu rumah sakit di Australi, tidak membuahkan hasil positif. Jelas ini menjadi kabar yang membuat saya terkejut, info terakhir yang saya terima dari Daniel, semua berjalan lancar, Bi seperti sudah kembali sehat. Tapi ternyata semua salah, tapi tidak dengan saya, sempat terbersit situasi terburuk, mengingat pernah ada kejadian dengan teman sma mengalami kondisi serupa dan tiba-tiba drop. Benar dugaan saya, kondisi yang semula stabil tiba-tiba turun drastis, dan Bi meninggalkan kami semua, suami, anak, keluarga dan para sahabat.

Saya kenal Bi memang belum terlalu lama, Daniel memboyongnya dari Lombok untuk di jadikan istri dan tinggal di Jakarta. First impresion saya sama Bi adalah orang yang amat sangat ramah. Logatnya yang agak kejawa-jawaan, kesukaanya sama masakan Indonesia dan kebiasaan-kebiasaan yang "indonesia" banget membuat saya terkadang lupa bahwa dia adalah 100 % bule. Emosi, terharu, dan kadang suka sama-sama nangis bareng bikin saya sekarang ngerasa kehilangan yang amat sangat. Semua peristiwa yang pernah kita lewatin bareng-bareng ga akan pernah saya lupain, termasuk persalinan si kecil Jamie yang memakan waktu lebih dari 4 jam. Kamu sudah menjadi ibu yang hebat dengan melahirkan secara normal dan berjuang sepenuh hati untuk kehidupan orang lain di kemudian hari, yess si kecil Jamie. Si pintar Jamie mudah-mudahan kelak menjadi sesuatu yang berharga untuk bangsa dan negara ya Bi, sesuai dengan apa yang kamu harapkan, amin amin. Dan mudah-mudah segala kebaikan yang pernah kamu lakukan di dunia Insya Allah akan meringankan kepergian mu Bi, amin.

Jadi inget sama apa yang pernah saya baca di salah satu postingan di blognya Raditya Dika tempo lalu. Topik kehilangan seperti ini memang selalu menjadi hal yang sangat sensitif untuk di bahas. Ga sedikit orang mengalami ketakutan ketika tidak sengaja terjadi sebuah obrolan yang niatnya ringan berubah haluan menjadi nightmare. Well..kita emang ga tau kapan Tuhan mau ambil nyawa kita. Melihat dari tergolong belianya usia Bi yang masih 23 tahun, membuat saya sedikit ngeri dengan hal ini. Iya betul, kematian memang tidak mengenal usia. Ga ada istilah siap dan ga siap, karena itu sudah menjadi catatan rahasia Tuhan dan para petinggi di dunia ke dua setelah dunia di mana saya berpijak saat ini. Tanggal, bulan dan tahun, di jam dan menit kesekian, semua sudah terjejer rapi dalam list yang maha KUASA. Menjalani hidup dan beribadah dengan ikhlas mudah-mudahan menjadi tabungan untuk di dunai kedua kelak. Selamat jalan Bianca, semoga semua amal ibadah diterima dan keluarga yang di tinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan, amin.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar