16 Apr 2011


We come to love not by finding a perfect person, but by learning to see an imperfect person perfectly -annonymous-

**

Yang di ingatnya terakhir kali ia menangis hingga tersedu-sedu disudut ruangan tempat mereka sering menghabiskan waktu bersama. Tidak ada pelukan atau bahkan ciuman-ciuman kecil yang biasa Ray lakukan, sajian terakhir yang tersedia untuknya hanya tatapan dingin yang tersirat dari wajah bulatnya.

Setelah berjam-jam lelah dengan pertengkaran bathin, Raya pun mengalah dan berhenti meminta.

Dan Ray pun berlalu begitu saja..

Selang beberapa minggu setelah mereka resmi berpisah, terdengar kabar Ray kembali mengandeng seorang wanita. Raya tahu, bahkan sebelum dirinya memutuskan untuk mengakhirinya semua. Hanya saja ia berusaha menutup akses untuk mengetahui segalanya lebih jauh. Yang di inginkannya saat ini hanya ingin menjalani hidupnya agar lebih baik.

Tatapan simpati dari teman disekelilingnya mengalir deras, ‘im fine, yes I do’ Raya berusaha memandangi temannya satu persatu sambil menyunggingkan senyum kecut diujung bibir. Ia tahu bahwa saat ini kondisi hatinya jauh dari kalimat bahwa ia sangat baik-baik saja, hanya saja ia enggan menunjukan kondisi sebenarnya saat ini.

Sudah tidak terhitung berapa kali dirinya dijodohkan dengan beberapa teman laki-laki. Tapi sepertinya terlalu banyak ketakutan yang dipikirkan Raya, hingga akhirnya semua penjajakan yang dijalaninya tidak pernah berujung menjadi sebuah hubungan spesial.

**

Setelah 3 tahun Raya menjalani itu semua, laki-laki itu kembali muncul dan berdiri dihadapannya saat ini. Ia tidak menyangka Tuhan masih memberinya izin untuk bertemu kembali.

Raya masih berdiri mematung, tidak satu kata pun yang terlontar dari mulut mungilnya.

Potongan potongan memori 3 tahun lalu yang masih menguar tajam, membuatnya terus mengingat betapa menyedihkan posisinya dulu, memohon untuk tetap bersama dan kembali mencinta seperti apa yang sudah mereka lakukan hingga 8 tahun.

‘Apa kabar?’ Ray menyapa seperti mencoba mencairkan suasana

dan ternyata Raya masih tidak bergeming. Ray hanya bisa menyunggingkan senyum kecut karena mendapati Raya yang sepertinya 'emoh' untuk bertegur sapa dengannya.

Apa yang diinginkannya saat ini? kenapa ia muncul dengan tiba-tiba dan bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Tidak kah cukup beberapa tahun lalu sudah memberikan memori terburuk dalam hidupku? Bathin Raya.

Derit pintu kayu jati tiba-tiba mengalihkan pandangan mereka, di ikuti dengan bunyi sepatu khas perempuan dengan hak tinggi..kletak kletok..kletak kletok..

Seorang gadis berperawakan tinggi menghampiri Raya dan dengan tiba-tiba merangkulnya dari depan. 'kamu udah selesai cari cincinnya?’ ucapnya sambil mengecup pipi Raya.

Ray mengernyitkan dahi, lalu memilih untuk tetap diam & memperhatikan gerak-gerik perempuan cantik yang sedang berdiri dihadapannya saat ini.

Aku baik Ray, oh iya kenalin pacarku’ sambut Raya sambil menarik lengan perempuan disebelahnya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar