1 Mar 2011

You and Me.

Ga sekali dua kali saya debat sama temen deket saya yang satu ini. Mulai dari obrolan ringan sampe ke persoalan yang menyangkut hidup mati orang lain(eh ga gitu juga sih hehehehe) udah sering kita bahas. Dan sepertipun layaknya lah hari ini kah, hal itu masih sering terjadi.


Saya tahu betul wataknya kaya apa. Dia bukan orang yang sempit juga bukan tipe yang monggo kerso juga sih untuk beberapa gagasan-gagasan yang sering saya sampaikan. Tapi yang pasti cukup okelah kalo jadi partner ngobrolin bola sampe pagi. Sayang, kita ga sejalan untuk urusan bola ;P


Sampe pada akhirnya kita sampai pada titik dimana status hubungan berubah. Ibaratnya kita berdua naik kelas, dari kelas KW jadi kelas KW super hehehehe ;P

Seperti layaknya adegan - adegan dicerita cinta korea menye-menye,begitu masuk chapter menuju happy ending, semua dibuat bergerak cepat hingga mereka menikah .. TING!! *halah.
Begitu juga kita, semua pun ikut berubah.

Saya tau ko, proses adaptasi itu ga gampang. Tapi masa iya kita sohiban bertahun-tahun ga bisa 'nemu jawabannya' setelah kita naek kelas ;)

Iya saya emang stubborn, tapi semua pasti ada alesannya kenapa saya sampe bersikukuh kaya gitu. Ini diluar dari topik yang saya bahas untuk kali ini loh ya.


Ya namanya orang berhubungan, semua ada batesnya. Dan kalo mau dibahas 'semua hal' perlu ditekan-se-ditekan-tekannya.Ya ga masyalah kalo kata saya mah. Toh itu juga memang sudah kita lakukan, saling mengesampingkan ego dan hal berlebihan lainnya.

Tapi kadang ya, ada beberapa hal yang saya pengenin itu cuma tetap berdiri dimana saya berdiri sekarang. Tapi berhubung ketemu dengan 2 kepala, kadang hasilnya justru berbalik jadi bumerang untuk saya.

Oke, back to the topic

Disela-sela obrolan sore itu, saya emang ngucap sesuatu dengan nada lugas.Sebenernya mungkin Ga perlu sampe sebegitunya sih. Toh saya ngomong sama orang paling dekat dengan saya saat ini.Dia pasti jauuuuh lebih mengerti saya secara personal. Tapi ya saya gituloh, niat keluar huruf A dari mulut dengan nada datar, tiba-tiba keluar dengan nada tinggi.

Saya bilang gini, kalo suatu saat kita menikah,enggan untuk mengikuti beberapa hal yang menurut pengamatan saya pribadi sudah menjadi budaya dalam keluarganya harus di ikuti plek-plek sama saya. Cuma ngerasa ga cocok aja.


Saya tau dia pasti tersinggung, karena ketika saya hendak menyelesaikan kalimat terakhir. Bagian ujung lidah saya mendadak kelu untuk meneruskan. Saya lihat wajahnya yang sudah seperti menahan rasa kesal sedari kita ketemu.

Endingnya sudah pasti bisa ditebak, malem itu pas saya diantar pulang kerumah, sepanjang perjalanan cuma ditemenin sama cahaya bulan dan angin sepoi-sepoi diantara ventilasi helm.Ga deng, aslinya mah ditemein sama klakson motor mobil yang ga sabaran nunggu lampu hejo ;P

Begini loh maksud dari obrolan saya waktu itu. Iya saya ngerti kalo kamu tersinggung karena cara saya bicara, dan memilih topik yang saya bicarakan terdengar memang seperti membandingkan.Tapi bukan itu intinya.

setiap orang pasti punya pemikiran sendiri-sendiri tentang banyak hal dan itu semua jelas terbentuk dari banyak hal juga.keluarga itu sudah pasti, pengalaman pribadi, pengalaman sohib atau mungkin ketika bertemu dengan 'orang asing' disebuah perjalanan hidup yang kemudian mengendapkan sesuatu dipikiran.

So me.


Bukan sesuatu yang aneh juga rasanya ketika kita berangkat dari kubu dan tradisi yang berbeda lalu pada akhirnya bertemu disatu titik yang sama, muncul ketakutan-ketakutan ini dan itu untuk kedepannya.Tapi namanya beda gen dan beda beda yang lainnya dengan mereka para kaum pria yang rata-rata menganut sistem 'simpel aja kaleee', kalo kita udah cerita soal-soal begini, mereka suka bilang ga perlu hal-hal kaya gitu dipusingin.

Dan akhirnya saya mencoba untuk berpikir kembali. Mungkin emang ga harus sampe segitunya kali saya nyampein soal itu. Toh sambil berjalannya waktu semua pasti bisa diatasi. saya pun meminta maaf dan mencoba berjanji dengan diri sendiri untuk mengatur lidah dan otak ketika berbicara.

Tapi tetap ada sebagian dari diri saya yang ga setuju. Karena sebetulnya ketika saya berbicara yang saya lakukan sebelumnya adalah melihat, mendengar, menilai dan baru berani untuk berkomentar.
Jadi jangan bilang semua itu asal keluar, karena jelas menyakitkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar