16 Mar 2011

9 Summers 10 Autums


Beberapa minggu lalu saya datang ke Gandaria city. Awalnya sih cuma pengen jalan ketempat yang sebelumnya belum pernah kita singgahi. Setelah wara-wiri kesana kemari, cemal-cemil ini itu, di menit terakhir mau pulang Deni ngajak saya mampir ke Gramedia. Lalu dengan secepat itu pula saya mengangguk.

Kita punya kegilaan yang sama akan buku. Mulai dari novel ringan, komik, travelling, hingga ke buku sastra yang lumayan berat, selalu siap untuk dilahap.

Dan seperti biasa kalo masuk ke Gramedia, rak pertama yang saya datengin itu rak untuk buku-buku baru. Setelah puas lirak-lirik sinopsis dari buku satu ke buku yang lain, mata saya tertuju pada sebuah buku yang bergambar 2 buah apel. Secara visual memang biasa saja, hanya ada tagline yang membuat saya penasaran, dari kota apple ke big apple. Yang terbersit saat itu adalah sebuah pencapaian yang kelihatannya tidak mungkin menjadi mungkin.

Sejenak saya menikmati sinopsis dan beberapa testimoni dari orang-orang yang cukup meyakinkan saya untuk beli.
Tanpa berlama-lama lagi untuk berpikir, buku itu langsung saya bawa ke kasir.



Sesampainya dirumah, langsung saya lahap hingga setengah bagian. Dan ternyata tidak perlu waktu lama untuk menyelesaikannya, keesokan hari buku itu selesai saya lahap :)

Jujur saya tuh ga terlalu bisa mereview sebuah buku, tapi baru sampai di beberapa lembar pertama, saya seolah-olah seperti ikut menjelma menjadi teman sepermainan Iwan dimasa kecilnya. Mengikuti langkah kecilnya menyusuri semua masa lalu yang hingga saat ini banyak memberikan kekuatan untuknya.

Disaat ia harus belajar dengan penerangan seadanya, saya seperti ikut duduk mematut dihadapannya, memperhatikan keseriusannya didepan buku-buku pelajaran sambil mengulum senyum.

Disaat hatinya merasa kegetiran yang luar biasa karena segala keterbatasan yang ada, saya seperti berdiri dihadapannya, mencoba merangkul untuk menyuntikan sedikit semangat.

Atau ketika dengan sumringahnya ia menerima baju lebaran dihari umat muslim merayakan kemenangan, entah kenapa saya ikut melonjak kegirangan.

Memang selalu ada perang bathin jika kita berhadapan dengan masa lalu.Setiap membuka lembarannya,kadang terasa menyesakkan bathin.Jelas bukan hal yang mudah untuk berdamai dengan diri sendiri.

Begitu juga dengan Iwan. Ketika harus kembali menceritakan masa lalunya, sebagian dari dirinya seperti enggan untuk memijakkan kakinya kembali. Ia tahu, pencapaiannya saat ini bisa membayar segala kepedihannya dimasa kecil. Hanya saja semua masih terasa menyedihkan dan sakit.

Mas Iwan yang disebut oleh dirinya sendiri berperawakan kecil, bisa terlihat begitu besar dalam bayangan saya. kegigihannya melawan segala keterbatasan demi mimpi dan demi isak tangis ibunya yang terakhir kali ia lihat, membuat saya merasa tersentil untuk melakukan hal yang sama dalam segala hal yang ingin saya kejar :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar