13 Sep 2010

Busway oh busway.

Siapa sih yang ga tau Busway, salah satu transportasi paling modern saat ini (katanya)??!! Yang katanya setiap menit armada datang teratur. Yang katanya antrian dan lain sebagainya berjalan tertib dan harga yang sangat-sangat terjangkau mengingat jarak tujuan satu transit ke transit lain cukup jauh.

Tapi beberapa menit setelah saya menulis prolog diatas, tiba-tiba kepala terantuk sesuatu dan sadar kalo kita tinggal di negara tercinta, Indonesia Raya. Seperti sudah mengerti dengan semua aturan main di sini yang selalu anget-anget tahi ayam, saya mencoba untuk tidak terlalu berekspetasi jauh soal itu. Banyak kan contohnya, digembar-gemborin ini itu ujung-ujungnya yaaa gitu deeh :)

Entah persisnya kapan mulai diberlakukan antrian yang dipisah untuk perempuan & laki-laki, begitu juga untuk diri dan duduk. Karena ketika kembali menggunakan busway pada awal Juli 2010, sistem ini sudah berjalan. Awalnya pasti seneng dong karena kelihatannya ada kemajuan dengan aturan yang diberlakukan. Ga ada lagi deh dorong-dorongan karena sebagian penumpang belakang yang tidak berkeberatan diri, terhalang oleh mereka-mereka yang menahan dipintu depan hanya karena mereka ingin duduk. Buru-buru? silahkan masuk antrian berdiri ;)

Tapi seperti yang saya bilang tadi, Indonesia is Indonesia. Aturan dibuat untuk diacak-acak. Ketidak tertiban beberapa oknum penumpang seolah menjadi hal biasa yang kemudian dibiasakan. Sama dengan petugasnya, ga becus main sama aturannya sendiri. Alhasil orang-orang yang suka dengan keteraturan seperti saya ini, dianggap terlalu berlebihan menyikapinya. Nyelak emang enak, tapi coba deh dipikirin perasaan orang lain yang juga sudah menunggu gilirannya dengan mengantri.

Dan kali ini saya mau berbagi cerita yang acapkali terjadi sepanjang saya menggunakan busway, maklum cuma sarana transportasi inilah yang saya anggap tercepat (kadang-kadang) dan terdekat dengan kantor. Ga jarang mengundang emosi, geram dan senyum menggelitik .

Seperti biasa ketika menjalani rutinitas pagi dengan mengantri sambil mendengarkan ipod, saya menunggu giliran dengan tertib. Hingga tiba saatnya saya masuk kedalam busway, tiba-tiba mood dirusak dengan melihat beberapa penumpang antrian diri menyerobot masuk dan ikut duduk ketika antrian duduk masih diprioritaskan. Asshole!! dengan seenak jidat mereka duduk dan bersikap manis seperti boneka Barbie. Awalnya saya berusaha untuk cuek, tapi entah kenapa dalam hati selalu merasa tidak terima. Terbukti keesokan harinya saya menegur beberapa staf busway untuk bisa lebih tegas ketika ada perempuan-perempuan ga tau malu itu berusaha masuk seenak jidatnya. Dan jawaban mereka ya gitu deh, seperlunya :(

Yang kedua cerita lucu seputar antri beda gender ini. Jujur aja antrian pria selalu terlihat menarik untuk saya, selalu sedikit sehingga tidak perlu menunggu lama untuk masuk kedalam busway (ga heran banyak beberapa temen cowo bilang ga apa-apa kalau mereka berpoligami, karena stok cowo sedikit..deeuh kesempatan inimah). Dan pada kesempatan itu, kali kedua saya melihat sosok wanita diantara antrian laki-laki. Wajar dong kalo saya tanya sama petugasnya, siapa tau si mba ga ngerti dimana seharusnya ia mengantri hingga berkali-kali diri diantrian para pria ;P

Ada sesuatu yang mengundang rasa bingung dengan jawaban yang ia lontarkan, begini katanya.."mereka suami-istri mba"..dengan mimik muka bengong saya tanya balik lagi.."so?". Si mas jawab dengan tone suara pelan.."kalo suami-istri boleh masuk antrian pria mba, karena mereka ga bisa dipisahkan"..waaaah, takjub deh dengernya hehehehehe lebay ya saya..abis kesannya berlebihan banget, segitu ga bisa dipisahin satu sama lain, kalah tuh Romeo & Juliet.

Back to the topic, setelah merasa cukup masgul dengan jawabannya saya memilih diam. Tapi ternyata sekitar saya ikut merespon dengan celetukan yang cukup dalem buat si mas-mas staf busway..."wah kalo gitu besok-besok saya pilih aja cowo-cowo yang ngantri disini untuk diajak pura-pura jadi suami, ga dicek surat nikah juga kan? enak mas ..ngantrinya pendek"..disusul dengan derai tawa antrian wanita, nah tinggal si masnya deh bersikap kikuk lalu memilih untuk ngeloyor pergi ;P

Kalo udah kaya gini sih harusnya mereka bener-bener ngejalanin apa yang udah jadi aspirasi para pengguna di kotak suara yang sudah mereka sediakan. Seperti masukan dari saya yang dibahas disini, konsisten!! dengan rules yang sudah dibuat!!kalau memang sudah disesuaikan dengan perbedaan gender, jangan tiba-tiba melenceng dengan alasan suami istri, laki bini blabla pret dong. Lagian menurut saya aneh aja gitu, cuma karena mereka suami istri lantas seenak jidatnya bikin-bikin aturan sendiri. Kalo mau disamaain sama manula, ibu-ibu hamil dsb ya ikut aja ngantri di antrian special kaya mereka (kalo ga tau malu).

Begitu juga untuk antrian duduk-diri, seharusnya dicek terlebih dahulu bangku-bangku kosong untuk mereka yang antri duduk, baru kemudian yang berdiri dipersilahkan masuk. Yang bikin saya pengen maki-maki si tukang serobot yang kebanyakan perempuan adalah sikap tidak tau malu dan merasa tertuduh ketika beberapa pasang mata langsung melihatnya geram. Dijudesin doi malah lebih judes..go to hell aje lo!!!!

Mungkin ada beberapa dari orang-orang yang berpikir kalo saya cuma bisa komentar tanpa mau tau semrawut internalnya kaya apa. Pliss deh, saya juga pekerja, punya bos & client yang harus saya beri sebuah performa memuaskan. Dan ketika dilimpahkan pekerjaan berat lalu hasilnya adalah ketidak beresan, si bos atau client mana mau tau penyebabnya apa. Yang mereka mau tau cuma "semua beres, semua ok". Sama dong dengan halnya sistem yang diterapin pihak Busway, mau ribet atau ga di dalemnya, mau dikit atau ga armadanya, tetep mereka harus mengedepankan service terbaik untuk pelanggan. Jangan pikirin seperti kenaikan tarif etc deh, berbenah aja dulu pelan-pelan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar