18 Jul 2010

Out of the box.


Saya selalu menikmati saat-saat wiken seperti ini. Menghabiskan waktu di rumah dengan berjam-jam tetap setia di depan Skype bersama si pacar. Ga mandi dan ga ngapa-ngapain, turun kedapur hanya sekedar membuat secangkir kopi dan kembali ke kubikel yang sama ..hingga wiken berakhir..hihihi..

Nah tadi sempet ngobrol-ngobrol ringan sama Deni. Biasa deh, cerita random yang kadang di topik-topik tertentu suka jadi obrolan serius. Kali ini kita serius pada satu topik mengenai hubungan 3 hati yang di jalanin sama temen saya. Hubungan 1 perempuan dan 2 laki-laki ini sudah di jalani olehnya dalam kurun waktu 3-4 tahun. Dan seperti yang saya lihat hingga saat ini, mereka tetap mereguk nikmatnya bahagia dengan tetap seiring sejalan. Hebat ga tuh.

Dan saya tahu persis Deni sosok seperti apa dan lebih condong kemana ketika kita ngebahas sesuatu yang "out of the box". Di mulai dengan pendapatnya yang tetap tidak tidak setuju di lihat dari sudut manapun cara si pria satu menerima perempuannya membagi cintanya dengan pria lain. Lalu di susul dengan perdebatan-perdebatan lainnya yang cenderung menolak keras. Dan saya tetap menghargai apapun pendapat yang ia kemukakan.

Jujur, respon saya pertama kali mendengar cerita ini dari si sumbernya langsung adalah sama dengan Deni. Komentar yang saya lontarkan pun rasanya udah kebaca sama semua orang.."ah gila lo"...terus diam..terus komentar lagi.."iih ko bisa sih?"..terus diam lagi, kemudian komentar lagi.."beneran nih? hahahahaha sinting! lo"..

Tapi lambat laun opini berubah, seiring dengan apa yang saya lihat di hadapan saya waktu itu. Saya mulai menyukai hubungan yang terjalin antara mereka bertiga dan salut dengan pilihan yang mereka jalani saat itu. Bukan, saya bukan salah satu penganut poliandri seperti yang teman saya jalani hingga saat ini. Saya tetap berdiri di jalur saya sendiri.

Lalu kenapa saya bisa menyukai?

Pernah liat orang bahagia yang bener-bener bahagia ga? cukup di liat dari aura yang di pancarkan dari dirinya. Mungkin ada sebagian yang bilang saya sotoy, tapi kadang suka ada tuh ya komentar-komentar orang sekitar yang suka bilang.."ih itu orang, aura positifnya keliatan banget ya"..hayoo ngaku deh, pasti pernah komentar kaya gitu kan? acung tangan!

Nah! itu yang saya lihat dari mereka. Hubungan yang tidak pernah sekalipun terbersit di pikiran saya untuk menjadi pilihan dikemudian hari, merupa menjadi rumah hati. Menjadikan para penghuninya nyaman untuk terus berada di dalamnya.

Saya yakin kita sebagai orang timur pasti sulit nerimanya. Tahu sendiri di Indonesia kalo mau ngapa-ngapain harus tahu pakemnya. Keluar jalur sedikit langsung di ingetin secara langsung atau ga langsung kalo kita hidup ga sendirian. Ada lingkungan dimana agama, para tokoh masyarakat, masyarakat itu sendiri dan hukum yang bisa memvonis kita kapanpun mereka mau.

Tapi kemudian saya berpikir soal kata relatif, seperti fisik dan materi. Pendapat mengenai jelek cakepnya fisik orang lain jelas relatif, contoh : temen saya bilang Tobey si Spiderman jelek, saya bilang mah dia cute sekali =D. Begitu juga dengan obrolan seputar materi, contoh : Gaji 12 juta sebulan belum tentu di sebut besar jika saja pengeluaran kita lebih dari 12 juta.

Nah, begitu juga dengan kata ideal. Apakah bisa di masukan kedalam kategori relatif?

Iya saya tahu, bagi sebagian orang idealnya hubungan adalah terdiri dari 2 orang, 1 laki dan 1 perempuan. Mungkin kalo di tanya dari 10 orang, 9 menjawab hubungan 3 hati ini jelas bukan sesuatu yang ideal.

Tapi kemudian boleh kah saya menilai hubungan 3 hati ini menjadi ideal untuk si mba itu (tidak termasuk saya loh ya =D) ketika satu sama lain merasa bahwa ini adalah hubungan ternyaman yang pernah mereka jalani? Di banding ketika suatu saat mereka memutuskan untuk menyudahi hubungan absurd ini karena hukum alam dari masyarakat yang sebegitu kejinya, lalu memulai dengan sesuatu yang "ideal" tapi kemudian mereka tidak menemukan "ke idealan" hati yang sering orang lain bilang, untuk apa? untuk menjaga terus agar pendapat orang ke diri kita tetap positif sementara hati mengering gersang?

Kasarnya apa yang kita jalani bisa kita nikmati tanpa menyakiti satu sama lain, kenapa harus ribet dengan opini miring orang lain?

Terlepas dari normal tidaknya hubungan 3 hati ini, saya hanya salut dengan segala konsekwensi yang mereka terima. Dan keseimbangan dalam hidup yang sudah mereka dapatkan dari hubungan di luar nalar seperti ini.

Well..ini cuma opini saya pribadi yang mungkin terdengar sok tahu. Ga bermaksud juga merubah haluan untuk menjadi pengikut si mba ko Den n_n. Dalam hidup saya, insyaAllah hanya akan ada 1 pria yang menemani sampai akhir hayat. Semoga itu kamu, amin n_n




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar