11 Jul 2010

Evolusi, saya dan kamu.

Saya selalu ga habis pikir ketika lagi-lagi berbenturan hal yang sama dengan orang ini. Terbuat dari apakah hati dan pikirannya hingga sebegitu sanggupnya mengulangi perdebatan yang sama selama belasan tahun? tidak kah ia lelah dengan situasi yang sudah seringkali merugikan saya dan dirinya? tidak kah kita bisa bersikap sesuai dengan umur dan porsi otak yang sudah di berikan Tuhan untuk kita berdua? oh mungkin ada sebagian yang protes dengan apa yang saya ucapkan pada kalimat terakhir. Umur terkadang tidak bisa menjamin seseorang untuk bisa bersikap lebih baik, hal ini bisa terlihat dari dirinya ataupun tanpa saya sadari saya pun telah terjerat masuk menjadi orang yang sedemikian kerdilnya dalam bersikap.

Merubah orang lain menjadi apa yang saya inginkan jelas tidak bisa, merubah diri saya untuk lebih mengerti orang lain mungkin bisa, tapi terkadang saya merasa limit yang saya punya habis terkuras. Banyak orang bilang karena perbedaan shio, zodiak, hari lahir dan sebagainya bisa mengakibatkan hubungan 2 orang tidak bisa seiring sejalan, selalu bersebrangan dan lain sebagainya. Jujur saya mah awam untuk persoalan yang satu itu, mungkin sesuatu yang bisa menjawab semua pertanyaan yang acapkali muncul dalam benak saya hanyalah lingkungan di mana ia bergaul saat ini telah membentuk kepribadiannya sampai sedemikian rupa.

Saya percaya semua orang mengalami evolusi. Kalau saja itu tidak terjadi, pertanyaan 1+1 tetap akan mempunyai jawaban yang sama yaitu 2. Tetapi seiring dengan evolusi yang di alami setiap manusia (begitu juga saya), jawaban itu bisa berubah menjadi 4, 5, 10 atau berapapun nominal yang ingin saya sebut. Dan saya yakin jawaban apapun yang saya berikan pasti benar. Karena jawaban itu tidak lagi berdasarkan hitungan nominal, tapi lebih ke jawaban dengan penjabaran yang lain. Seperti ini : 1 kepala manusia + dengan 1 kepala manusia lainnya = akan timbul lebih dari 4 atau 5 masalah. Atau mungkin anda mempunyai jawaban dengan penjabaran yang lain? silahkan, semua jawaban bisa menjadi benar.

Tapi ternyata saya salah mengenai evolusi yang seharusnya terjadi pada semua orang, karena untuknya evolusi hanya menjadi sebuah perbendaharaan kata yang cukup di dengar tanpa pernah di alaminya. Sikap, sifat dan tindak tanduknya dalam menyikapi segala hal selalu statis. Entah karena rasa idealismenya yang tinggi sehingga sulit menerima perubahan diluar ranah pribadinya, atau memang cangkang yang melindungi otaknya terlalu keras sehingga menyulitkan dirinya untuk menyerap segala sesuatu dari luar.


Saya tidak menginginkan orang lain menjelma menjadi sosok yang ada dalam benak dan harapan saya selama ini. Buat apa juga saya sibuk memikirkan cara-cara merubah orang lain sedangkan ketika bercermin masih melihat pantulan diri sendiri masih saja tidak beres.
Saya hanya ingin ia bisa menempatkan dirinya di posisi saya ketika ia hendak melakukan hal-hal yang membuat saya sakit, kecewa atau bahkan murka. Begitupun saya, sebelum mengatakan hal ini kepada orang lain, terlebih dahulu saya katakan untuk diri sendiri. Dengan begitu akan membuat saya atau dirinya berpikir 1000 kali sebelum melakukannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar