26 Jul 2010

Capenya jadi orang temperamen.



Jangan dikira jadi orang yang punya sifat temperamen itu enak, enak karena bisa bebas nunjukin perasaan emosi secara berlebih, enak karena bisa maki-maki seenak jidat atau terserah mau coba divisualisasiin dalam bentuk apa, yang jelas dengan cara orang-orang temperamen kebanyakan.

Karena kenyataannya adalah ga enak.

Kenapa?

Karena ga melulu bisa mengekspresikan kemarahan dengan bebas menjadi hal yang menyenangkan buat orang-orang temperamen seperti saya. Karena apa? karena dengan saya mengeluarkan emosi secara berlebih sama halnya dengan mencoba menyakiti diri sendiri. Yess! ketika kondisi sudah kembali seperti semula, membaca sms yang sudah di kirim atau chitchat yang saya lakukan acapkali meninggalkan rasa sakit dan sesal yang dalam. Saya jadi orang yang saya sendiri ga kenal, jadi momok menakutkan yang sulit sekali untuk dikendalikan.

Dan yang seperti orang lain alami pada umumnya, marah-marah selalu sukses menguras tenaga dan pikiran. Untuk orang yang mempunyai kadar emosi yang biasapun bisa mengakibatkan kelelahan yang cukup lumayan, bagaimana dengan saya? atau teman-teman saya yang mempunyai temperamen tinggi? jelas berlipat-lipat dari biasanya. Dan ga heran saya selalu terkulai lemas tak berdaya, seperti orang yang baru selesai orgasme berkali-kali dalam pertempuran adu birahi.

Dan yang bikin saya bingung, saya melakukan kemudian menyesali kemudian melakukan lagi kemudian menyesali lagi. Entah karena memang sudah menjadi tabiat yang sulit untuk di hilangkan atau memang ternyata kenyataanya saya tidak cocok untuk berjalan beriringan dengan siapapun? oh atau mungkin saya memang membutuhkan seorang therapis untuk mengontrol tingkat kemarahan saya yang pada akhirnya menjadikan saya orang yang lebih normal?

Well..kalo keadaannya begini terus, single mungkin terdengar lebih baik daripada double. Marah untuk diri sendiri, sakit untuk diri sendiri.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar