21 Jun 2010

Lana part III

Bip bip ..bip bip ..ponsel Lana bunyi. Ia memalingkan wajahnya sebentar dan kembali membuang pandangannya ke langit. Tenggelam dalam pikirannya, menerka-nerka dengan persepsi yang ia buat sendiri. Dan meyakinkan hatinya untuk tetap mengabaikan Jusuf.
Seperti sedang berbicara dengan orang lain, Lana menggerak-gerakan tangan sambil berbicara setengah mengumpat. Andai ada yang melihatnya apa yang ia lakukan saat ini, mungkin sudah menganggap dirinya gila.


Sempat terpikirkan olehnya untuk datang menjambangi kediaman Yara, salah satu teman baiknya. Untuk berkeluh kesah dan bergosip tentang apa saja yang sudah sama-sama mereka lewati hingga hari ini. Yara orang yang paling mengerti dirinya, tidak pernah melabeli setiap permasalahan menjadi benar atau salah, baik atau buruk, hitam atau putih, jelek atau cantik. Yara lebih memilih berdiri diantara 2 sisi koin, yaitu sisi ke 3. Sisi yang selalu bisa dilihat, tapi terkadang sulit untuk dijamah. Seperti ada yang mengikat bathin keduanya, berkali-kali menemukan dan dekat dengan berbagai macam karakter manusia. Yara dan Lana selalu kembali ke dalam kubikel yang sama.

Pandangannya kembali ke ponsel yang masih tergeletak jauh dari jangkauannya. Dengan setengah hati ia beranjak, meraih ponselnya dan membuka pesan masuk. Lana terperanjat ketika melihat nama yang muncul di layar ponselnya..

Yara??

Sambil tersenyum simpul Lana berceloteh kepada dirinya sendiri.."kenapa ya kadang di saat kaya gini, saya ngerasa ikatan bathin kita kuat Yar.."
Tanpa membuang waktu, dengan sigap Lana membalas pesannya, menyetujui pertemuan sore hari di sebuah kedai kawasan Hegarmanah, Bandung.


Sedari pagi kerjaan Lana hanya berdiam diri di balkon rumahnya, menikmati cuaca yang tidak terlalu terik dan di selingi dengan angin yang bertiup kencang. Pertemuan tidak sengaja di restoran beberapa hari yang lalu, masih terus membayangi dirinya. Lana teringat apa yang pernah ia baca di blog salah satu inspirasinya dalam menulis, Dee. Tentang hubungan yang mempunyai kadaluarsa,

Hidup punya masa kadaluarsa, hubungan pun sama. Jika tidak, semua orang tidak akan pernah mati dan semua orang tidak pernah ganti pacar dari pacar pertamanya. Kita bisa bilang, putusnya hubungan A karena dia selingkuh, karena bosan, karena ketemu orang lain yang lebih menarik, belum jodoh, dan masih banyak lagi. Padahal intinya satu, jika memang sudah waktunya, perpisahan akan menjemput secara alamiah bagaikan ajal
.

Lana mencoba menelisik lebih dalam apa yang tersirat dalam tulisan Dee, sempat tersenyum geli karena sepertinya Dee menganggap hubungan tak lebih dari produk. Padahal jelas-jelas manusia adalah mahluk paling istimewa yang di ciptakan Tuhan.
Tapi kemudian Lana mencoba melihat apa yang di alaminya dengan Jusuf dari kacamata Dee mengenai kadaluarsanya sebuah hubungan. Itu betul, hubungannya dengan Jusuf memang sudah memasuki masa kadaluarsa. Segala sesuatu jika sudah memasuki masa kadaluarsa dan tetep ingin di pergunakan hanya menjadikannya sebagai penyakit.



Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 3 sore, Lana berjalan meninggalkan balkon dan bersiap-siap untuk menemui sahabatnya ditempat yang sudah di janjikannya.

Lana mematung lama di depan kaca, sambil sesekali merapikan rambutnya yang sudah terurai panjang. Tinggi badan yang dirasa ideal, membuatnya terlihat pantas mengenakan baju model apapun. Tank top, cardigan, jeans, wedges dan syal merah di pilih sebagai outfitnya hari ini.

***

15 menit sudah Lana menunggu sahabatnya yang tak kunjung terlihat batang hidungnya. Sesekali disesapnya coklat panas sambil sesekali melihat ke sekeliling. Sudah lama dirinya tidak datang ke tempat ini, banyak yang berubah. Interior, menu makanan dan beberapa spot di mana ia dan Jusuf sering menghabiskan banyak waktu di sela-sela waktu kuliah mereka.
Dan ternyata Bandung memang sempit seperti kelihatannya, Yara sering menjambangi tempat ini.


"Lana!! ".. terdengar suara dari kejauhan..sambil meletakkan cangkir kemeja, Lana menoleh mencari sumber suara. Dan terhenyaklah ia dengan apa yang di lihatnya saat ini.

Kebetulan kah yang membawa dirinya bertemu dengan Jusuf di sore hari ini? kebetulan kah di sekian banyak tempat, sekian banyak waktu, lagi-lagi ia harus menelan ludah melihat Jusuf menggandeng tangan perempuan itu di hadapannya?
. Kata orang ada banyak kebetulan-kebetulan lain yang sering terjadi dalam hidup. Untuk Lana, ini bukan sebuah kebetulan. Ini sudah ada dalam rencana Tuhan, sesuatu yang di jatahkan untuk dirinya.

Lana bangkit dari duduknya, merapihkan baju dan berusaha bersikap biasa. "Sama siapa Lan?" sekuat tenaga Lana berusaha bersikap biasa, tapi nyatanya suara itu sukses membuat wajahnya memerah. "Sendiri suf, lagi nungguin temen juga sih, emm..kalian..cuma berdua? "..ucap Lana seraya membagi pandangannya ke perempuan yang ada di sebelah Jusuf. Dan perempuan itu membalas pandangan Lana dengan senyuman. "Iya cuma berdua..eh iya Lan, gw mau ngenalin lo ke seseorang nih..seraya Jusuf setengah berbisik sambil cengangas cengenges"
Deg!..perasaan tidak enak itu kembali menyeruak ke permukaan..dan Lana berharap bisa melesat keluar dari tempat ini dan berhenti untuk memikirkan Jusuf.

"Lana!! "..kali ke dua namanya di panggil.
Seolah seperti ada yang mengkomando, Lana, Jusuf dan perempuan itu memalingkan wajah dan melihat Yara setengah terengah-engah berjalan menghampiri dirinya. "Sori lama, mobil gw mogok, terpaksa telpon pa Edi untuk ngurusin mobilnya euy "

Entah kenapa tiba-tiba Lana seperti merasa terselamatkan dengan kehadiran Yara. Untuk mengalihkan rasa groginya, Lana langsung menarik lengan Yara .."Suf, kenalin sohib gw Yara..Yar, ini Jusuf temen gw dikampus.."
Merasa terlambat dengan obrolan sebelum-sebelumnya, dan dengan muka setengah bingung, Yara membiarkan Lana menarik lengan untuk berkenalan. "Yara..Jusuf.."

"Oh iya..gw juga jadi lupa mau ngenalin cewe gw ke lo Lan, Lana ini Kandita, Kandita ini Lana"..sergah Jusuf. Dan Yara seperti tidak ingin ketinggalan sesi perkenalan, ikut menyodorkan tangan dan memberikan seulas senyum manis dari bibir tipisnya..

"So? mau..ikutan bareng ngumpul sama kita..atau.." Lana sengaja tidak meneruskan kalimatnya, berharap Jusuf meneruskan menjawab tidak.."Oh ga"..syukurlah dalam hatinya lega.."gw sama cewe gw masih ada urusan Lan, enjoy ure time deh..gw duluan ya"..senyum manis yang tersirat dari wajah Jusuf terlihat menusuk di mata Lana. Dan Yara ..sibuk meraba dalam hati apa yang di lihatnya saat ini, dan ternyata ada sesuatu di balik senyum manis sahabatnya yang di berikan untuk sosok laki-laki di hadapannya ini.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar