28 Apr 2010

Jurnal

Beberapa hari lalu Mel tidak sengaja menemukan jurnal yang dulu biasa dia pakai untuk menulis apapun yang ingin dia tulis. Berada di antara tumpukan majalah-majalah bekas yang sepertinya sudah siap di buang ke suatu tempat. Mel mengambil dan membawanya ke kamar. Dan sempat berpikir ketika menaiki anak tangga, ko bisa ya jurnal ini ada dibawah, seingat saya semua barang pribadi selalu saya letakkan dilantai atas, untuk yang masih terpakai ataupun yang sudah tidak. Terbaca kah oleh mama semua hal yang saya tulis dalam jurnal ini? aah biarkan saja kalau memang mama telah membacanya. Saya tidak keberatan, karena sepertinya tanpa perlu membaca jurnal ini, mama jauh lebih mengetahui apa yang saya rasakan setahun lalu seraya Mel dalam hati sambil melangkah masuk kedalam kamar.


Mel sudah dikamar, duduk di atas kasur dan mulai membuka halaman pertama. Membacanya pelan-pelan dan coba mengikuti tiap lembar jurnal ini yang seolah-olah langsung membawanya pada situasi setahun yang lalu. Tersirat rasa bingung , ketakutan-ketakutan, emosi dan prasangka buruk terhadap apa yang sedang Mel jalani saat itu. Kemudian membukanya lagi beberapa lembar dan terhenti entah dilembar keberapa. Membaca, merenungi dan menelaah kembali apa yang pernah Mel tulis dalam jurnal ini. Lalu menyentuh kertas itu, meraba dengan jari mungilnya dan tanpa sengaja bathinnya ikut mengucap sesuatu. Pen
a ini menari diatas jurnal dengan irama pelan, sendu dan penuh dengan harapan dalam hatinya sambil berusaha menyatukan kembali puzzle-puzzle masa lalu dalam kepala ini.

Cerita-cerita bertemu dengan orang-orang baru, berinteraksi dan menco
ba menjadi orang yang lebih terbuka Mel tulis rapi dalam jurnal ini. Bahkan melakukan sebuah perjalanan dengan salah satu teman dekat Mel juga pernah di tulisnya secara detail. 4 hari ke Bandung ketika Mel sendiri tidak tau kemana arah dan tujuannya, dan memutuskan menginap di salah satu hotel, melakukan apapun yang Mel dan temannya suka selama di Bandung. Pelan-pelan Mel menelanjangi jurnalnya, melihat apa saja yang pernah terbersit dalam pikirannya waktu itu. Terkadang dalam beberapa tulisan, Mel kembali seperti orang yang kehilangan arah dan berujung ke titik dimana Mel memulai untuk move on. Kembali sakit, rapuh dan meracau tidak jelas.
Tulisan-tulisan yang menggambarkan semangatnya untuk terus berusaha melewati semua ketakutan-ketakutan yang terus menghantui pikiran Mel saat itu. Mel menyadari dirinya saat itu cenderung defensif dan berpikir pendek dalam mengambil keputusan untuk sesuatu yang Mel pikir bisa membantu menghilangkan ketakutan ini. Tulisan di saat Mel merasa payah sempat membuat Mel sedikit menghela nafas dan dia
m sejenak. Berat rasanya ketika melewati masa-masa itu, dalam benak Mel. Dan terkadang Mel suka merasa semua sia-sia. Dulu, apapun yang Mel lakukan di luar sana, Mel merasa takut itu tidak pernah mau hilang, selalu ada dan akan tetap menghampirinya ketika kesendirian menyapa di setiap malam menjelang tidur. Mel berusaha memejamkan mata dan mengusirnya setengah mati ternyata juga berujung sia-sia.

Sudah setengah jam Mel menghabiskan waktu untuk membaca, sementara waktu dalam jurnal ini sudah berjalan lebih cepat. Tulisan-tulisan ini sudah berjalan mengikuti perkembangan hati dan bathin Mel. Mulai bisa meyakinkan diri sendiri kalo saat itu Mel tidak sendirian, Tuhan selalu menemaninya kemanapun Mel pergi. Mono dialog yang sering Mel lakukan sebelum memejamkan mata, diyakini selalu
di dengar sama Tuhan, hanya mungkin Mel diminta untuk bersabar sebentar dan belajar mengikhlaskan sesuatu.

Terhenti di pertengahan jurnal, lalu melihat lembaran-lembaran kertas kosong. Mel diam dan berpikir sejenak, mungkin kah pada saat itu Mel sudah menemukan orang yang tepat dan memutuskan untuk berhenti bercerita pada jurnal kesayangannya ini? ah entahlah pikirnya.

Lalu Mel menutup Jurnal itu, ada perasaan aneh yang Mel rasakan. Antara senang sudah bisa melewati masa-masa tersulit dalam hidup, dan sakit karena ternyata mengikhlaskan sesuatu yang pernah menyakitkan ternyata tidak mudah. Bergerak dari tempat dia membaca saat ini, Mel menghampi
ri lemari kayu yang terletak dipojok kamarnya, membuka dan memutuskan untuk menyimpannya. Mungkin itu adalah bentuk sikap Mel untuk menghargai apa yang pernah di lewatinya dulu.

Time will tell everything. Semua pasti ada hikmahnya. Tuhan ga pernah tidur. Karma itu ada. Dan semua wacana-wacana lainnya yang pernah teman-teman lontarkan kepada Mel mungkin dulu terdengar klise. Tapi tidak hari ini, Mel sudah mengambil hikmah dari apa yang pernah Mel pilih dan lalui. Kesempatan kedua itu datang, Mel kembali menemukan orang lain dengan perasaan yang sama ketika dulu Mel me
ngalami sebuah metamorfosa jatuh cinta. I do love you and I do miss you sayang ucap Mel pada foto yang sedang ia pegang saat ini. Semoga Tuhan menjaga hubungan ini seperti saya menjaga perasaan ini untuk kamu ^^.

*for you Deni :*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar