21 Mar 2010

Unfinished fren business

Jadi bingung, harus bersikap apa lagi ya untuk kali ini?. Berontak dengan cara meluapkan segala emosi, atau memilih mundur pelan-pelan lalu menghilang. Emm mungkin saya pilih yang kedua. Kenapa yang kedua? karena dulu, ketika saya masih teenagers dan masih sangat manis, mengambil langkah nomer wahid berdampak sangat buruk terhadap diri saya sendiri, terbentuk sebuah gap yang disinyalir karena dan oleh saya. WHAT?? padahal jelas-jelas bukan saya yang salah, but who really care? sebaik apapun kita bersikap, ga semua orang bisa welcome.

Membaca prolog diatas pasti pada bingung, kamu ngomongin apa sih wulan? ko ada gap-gapan trus ada emosi yang meluap-luap segala? Yess, saya pengen sharing soal kegundah gulanaan hati saya soal hubungan pertemanan. Saya, kamu, dia dan mereka. Siapapun yang terlibat dalam hidup saya sehari-hari, eh nanti dulu..bukan..bukan sehari-hari, mereka-mereka ini tidak terlalu dekat dengan saya. Hanya sekedar kenal dan menjurus lebih kenal dan ..menjadi sama sekali tidak kenal!!..well..im just an ordinary-twenty somethin woman. Kadang menyebalkan, menyenangkan dan juga menjijikan.

Saya memang tergolong wanita yang gampang adaptasi dengan lingkungan, tapi ternyata ga melulu positif menjadi orang yang open terhadap siapapun. Ada satu cerita ketika jaman saya masih duduk dibangku kuliah. Salah satu teman yang cukup dekat, datang dan berbagi cerita soal hubungan cintanya. Tidak sedikitpun saya melewatkan kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulutnya. Ketika sadar, saya sudah ikut membenci sosok perempuan yang ikutan nimbrung dalam hubungan kisah kasih teman saya. Seperti perempuan yang tidak punya manner, sosor sana sosor sini. Maaf ya, saya memang tidak berparas rupawan tapi saya bisa bersikap sewajarnya ketika masuk dalam sebuah GAP walaupun misal ada cowo yang saya taksir ada didalam GAP tersebut.

Minggu berganti minggu dan bulan menjadi tahun, waktu kian menjauh kan saya dengan si teman. Kabar berhembus ternyata teman sudah kembali berteman dengan si wanita ketiga itu. Jadi bingung, saya pikir dia betul-betul membencinya sama seperti saya pada hari ini. Masih tidak bisa respek dengannya. Dengar dari beberapa teman dekat ternyata teman saya ini memang bermuka dua, dan sudah terbiasa dalam GAP mereka satu sama lain saling membicarakan. Wah punya muka satu aja ga habis-habis ini malah punya dua. Bukan main manusia, berteman dan saling merangkul ternyata hanya untuk menusuk belati dari belakang. Dan yang pasti hal ini jelas membuat saya marah dan kemudian memilih DIAM. Menelan semua kemarahan, dan mengumpatnya dalam hati. Bisa-bisanya dia menggiring saya menjadi orang yang ikutan membenci tapi sementara dia sudah berdamai dan ketawa ketiwi dengannya. Ass hole!!

Cerita terus bergulir sampai pada suatu ketika saya harus kembali diketemukan dengan wanita ketiga ini dalam sebuah projek berbau art. Sempat ada kebingungan harus bersikap seperti apa. Apakah beramah tamah tapi hati berkata jangan, atau diam dan bersikap seperlunya saja. Tapi kemudian saya mencoba untuk memilih seperlunya saja. Saya tidak sendiri dan masih ada partner lain yang bisa saya ajak diskusi.
Dan suatu ketika saya melakukan sebuah kecerobohan. Terlalu mempercayakan hal ini kepada salah satu partner kerja saya, alhasil berita ini bocor kemana-mana dan wanita ketiga ini mengetahui bahwa saya tidak bersimpatik terhadapnya. Lambat laun terbentuklah sebuah GAP dalam lingkaran pekerjaan yang saya geluti saat itu. Saya yakin bahwa GAP ini terbuat karena dan oleh saya *su udzon memang tidak bagus, tapi pernah kah anda merasa bahwa tatapan mata sinis itu menusuk jantung anda pelan-pelan? yess saya sadar betul mereka tidak menyukai saya *

Entah celoteh macam apa yang telah dia lontarkan ke beberapa partner kerja saya sampai-sampai mereka bisa bersikap demikian terhadap saya. Apakah soal kinerja kerja saya yang kurang bagus? atau beberapa attitude saya yang kurang berkenan? well..saya terima jika memang alasan pekerjaan membuat kalian sampai kurang suka dengan saya, jujur kali pertama saya terjun di dunia seperti ini. But hey, tunggu dulu..pekerjaan itu sudah selesai dan kenapa hawa kebencian itu masih terasa sampai saat ini? dan satu hal lagi, sudah kah kalian berkaca bahwa kalian juga sama-sama tidak sempurna dalam pekerjaan kalian masing-masing?. Tidak etis rasanya bila saya harus membeberkan sesuatu yang saya tahu tentang wanita ketiga ini di sini. Dan bisa di pastikan bahwa suatu saat saya akan datang dan menyelesaikan unfinished business ini dengannya. soon.

Ternyata belum selesai sampai disitu, masih ada satu chapter lagi dimana lagi-lagi saya terjerembap dalam kubang yang sama. Berawal dari sebuah joke berakhir dengan jarak yang sukses terbentang jauh antara saya dan teman saya yang satu ini. Well..untuk kali ini cukup sudah rasanya saya berinteraksi dengan orang-orang seperti ini. Bukan, bukan saya melihat bahwa kamu adalah salah satu dari contoh orang bermuka dua, tapi kamu adalah bagian dari unfinished bisnis saya. Dan jujur, saya ga mau list ini menjadi terus bertambah setiap harinya. Cukup kamu menjadi orang terakhir dan ditutup dengan kata -fin- .
Mungkin memilih mundur dari dunia dimana saya bermain-main dan bersenang-senang saat ini adalah pilihan yang cukup rasional untuk saya. Beberapa hal yang bisa saya renungkan dari kejadian ini adalah tidak semua orang terlihat sesuai dengan apa yang kita lihat..
"ketika kita tertawa hingga terjungkal-jungkal, dan berbagi sesuatu dikala sedih belum cukup menjadikan sebuah hubungan pertemanan menjadi lebih real"..
Cukup mengenal selintas lepas dan tersenyum ketika berpapasan adalah hal yang lebih menyenangkan ketimbang mengenal lebih dalam dan menemukan kekecewaan yang bertubi-tubi.

Jadi teringat Mr. Hensom dan pa bewok, apa kabar mereka ya? dan si kecil kriwel-kriwel and also her lovely mom. Mata sendunya selalu bikin saya kangen. Wah sabtu ini pacar kembali keJakarta. Bisa dipastikan saya bisa bertemu mereka. Yihaaa kumpul-kumpul!! Me miss you so mucho, guys. Untuk mereka saya ga perlu meragukan hal-hal lain ketika saya menjadi diri saya atau bahkan menjadi orang lain ketika berhadapan dengan mereka.

Adios eperibadios..*apa sih* hehehehe..





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar