10 Feb 2010

writting, browsing, blogging.

Belakangan hobi baru saya browsing blog-blog orang lain menjadi lebih gencar. Seru rasanya membaca kisah-kisah orang lain yang tertuang dalam sebuah blog. Bukan hanya ceritanya saja, tapi lay out dan keseluruhan dari blog itu sendiri. Menarik dan cukup komunikatif. Banyak ilmu yang saya dapat dari sana. Ibarat sebuah jendela, ketika saya membuka dipagi hari ada banyak manfaat yang saya ambil disana. Bukan hanya hangatnya sinar matahari, tapi udara segar yang membuat saya kembali hidup, kembali mempunyai nilai untuk orang lain.


Seperti biasa, sesudah membaca bermacam-macam jurnal harian orang lain disebuah blog. Saya tertular ingin membuat dan menulis berbagai macam hal. Jujur saja membuka dan membaca blog orang lain membuat saya semangat untuk membuatnya. Mungkin bukan hanya saya, anda pun demikian. Selesai membaca, banyak sudah yang terbersit dibenak saya. Ingin ini ingin itu. Tapi pada kenyataanya saya cukup sadar sepenuhnya kalau saya ini cuma salah satu dari orang kebanyakan. Menulis menjadi hobi “hangat-hangat tahi ayam”. Muncul semangat menulis ketika saya membaca buku dan menjadikan sebagai sebuah ispirasi baru. Tetapi seperti yang sudah-sudah, tulisan itu tidak pernah terselesaikan dengan baik. Mood yang naik turun mempengaruhi semangat dan isi otak saya. Yap, tulisan itu Cuma menjadi salah satu sampah didalam file saya. Berharap ada salah satu tulisan yang bisa saya selesaikan dengan baik.

Nowadays, blog tidak hanya menjadi ajang narsis untuk semua orang, tapi juga bisa mendatangkan uang. Yup, blog bisa dijadikan sebagai lahan basah. Cukup duduk manis dirumah bermodalkan sebuah modem, computer dan ide kreatif, anda bisa menjadikannya sebagai sumber rezeki.

Ada nilai komersil yang bisa dibuat dari sebuah blog. Contohnya saja Raditya dika, mungkin awalnya dia tidak mempunyai ekspektasi apapun dari jurnal harian yang ia buat. Sampai pada suatu ketika sebuah publisher menawarkannya untuk menjadikan jurnal hariannya kedalam bentuk lain yaitu kedalam bentuk sebuah buku.Opini saya untuk contoh tulisan Raditya dika, cukup berani. Dia tidak perlu memilih kata-kata rumit dengan definisi yang sulit dicari, kalimat sehari-hari yang dia paka sudah cukup menguatkan karakter Dika sendirii, kata-kata vulgar dan kekonyolan-kekonyolan yang dia alami saat menjalani kuliahnya di Adelaide sudah cukup menarik dan menjadikannya sebagai sebuah nilai komersil yang tinggi untuk dijual ke khalayak luas. Bukunya sukses menjadi best seller dan masuk kedalam list “must have” saya.
Isinya cukup membuat saya tertawa terbahak-bahak setiap kali membacanya. Pernah suatu ketika saya membaca saat sedang berada didalam sebuah bis. Saya berusaha menahan semampu saya untuk tidak tertawa, tapi ternyata sulit sekali menahannya. Alhasil sukses membuat orang lain menyangka saya gila. Hahahahahaha. Apapun itu saya menikmati semua cerita dalam buku ini.

Beda Raditya Dika beda Reza Gunawan. Tidak sengaja saya membuka blog Reza dari link blognya teh Dewi lestari. Tampilannya yang sederhana namun sarat akan makna membuat saya tertarik untuk menghabiskan waktu cukup lama untuk membaca setiap detailnya n_n.
Reza gunawan. Seorang penyiar, penulis sekaligus terapis yang juga berstatus sebagai suami dari penulis juga penyanyi Dewi “dee” Lestari ini mencoba mengajak kita semua untuk memahami arti sehat secara harfiah. Sehat bukan hanya menyangkut organ tubuh manusia dan segala macam penyakitnya, tapi ada hal lain yang coba Reza sampaikan dalam hal ini. Menarik, kembali saya tahu ilmu baru n_n.

Ingin rasanya membuat sebuah tulisan tidak hanya menjadikannya kumpulan-kumpulan kalimat yang tersusun rapi tapi tidak mempunyai makna apapun. Berharap ada sesuatu yang terjadi ketika orang lain membaca. Arguing dengan alter ego yang lain. Antara penerimaan dan penolakan. Merasakan sentilan-sentilan dalam hati, sama seperti ketika saya membaca blogteh Dewi dan beberapa blog orang lain.
ketika orang lain membaca, keluar sebuah kata aha! yang terucap dalam hati, yang mungkin untuk saya itu adalah definisi bahwa si pembaca menemukan satu ide atau apapun itu.

Membuat satu tulisan yang menjadikannya sebagai sebuah inspirasi untuk orang lain adalah keinginan setiap orang yang mempunyai hobby menulis, tapi tentu bukan hal yang mudah untuk direalisasikan. Perlu pemahaman yang dalam untuk membahas sebuah topik, sehingga tidak timbul asumsi bahwa si penulis sok tahu dan terkesan menggurui.
Mungkin saya perlu membeli beberapa buku untuk bagaimana caranya membuat sebuah tulisan yang baik dan benar. Karena baik menurut saya belum tentu benar menurut orang lain. Tidak muluk-muluk, yang saya harapkan ketika saya sudah membeli, membaca dan memahami buku-buku acuan tadi, saya hanya berharap ketika saya membaca kembali tulisan yang saya buat dalam kurun waktu 2 minggu kedepan, tidak akan keluar kalimat “ini apa sih, tulisan ko ngelantur. Sama sekali ga ada passionnya” itu saja. Cukup.

Saya browsing buku-buku yang saya maksud tadi. Buku yang bisa membantu saya membuat tulisan menjadi lebih baik. Keluar lah buku writing amazing Fahd Djibran (ini salah satu buku favorite teh Dewi juga n_n) saya jadi ingin lebih tahu seperfect apakah kang Fahd (masih menurut teh Dewi, dan saya dapet info sedikit ternyata dia ini orang sunda, sama kaya saya n_n) ini dalam memberikan ilmu dalam bidang tulis menulis. saya membuka goodreads, sekedar ingin tahu penilaian buku ini dari sebagian orang, setelah membaca beberapa opini mengenai buku ini sepertinya cukup bagus, jadi tidak sabar untuk membelinya.

Buku lain hasil dari browsing saya waktu itu adalah buku the catch in the rye karya J.D Salinger. Ini salah satu referensi dari teman dekat saya. Dia bilang buku ini cukup bagus dan mempunyai banyak quote yang bisa sedikit merubah opini pribadi mengenai beberapa hal. hmm menarik! tapi memang tidak ada kaitannya dengan tujuan saya untuk belajar menulis lebih baik lagi. Tetapi membaca buku orang lain merupakan salah satu faktor yang bisa membantu saya belajar membuat plot dan tulisan yang benar. Mudah-mudahan saya bisa mewujudkannya untuk saya dan saya n_n. Vaimus!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar